JOURNEY OF LIFE

Search This Blog

Update

Thursday, March 22, 2018

Besar Bersama Hal Kecil


ilustrasi oleh liriklaguanak.com
Hari minggu adalah hari yang sangat di tunggu-tunggu bagi anak sekolah karena hari itu adalah hari kemerdekaan di mana kita bebas dari masa penjajahan pelajaran. Di hari minggu pas gue kecil dulu biasanya gue habiskan dengan main bersama teman-teman kampung dari pagi hingga sore, paling pulang cuma siang untuk makan dan setelah itu lanjut main lagi. Hal itu sekarang berbalik 69° saat gue kerja di mana hari minggu gue cuma di habiskan untuk nonton film, belajar desain, main game, sesekali update blog dan sesekali main keluar itupun rada jarang. Di tambah lagi tempat kerja gue jauh dari tempat wisata, panas, macet dan kebanyakan temen kerja sudah pada berkeluarga, serasa ingin pindah kerja.
Di hari minggu ini gue jadi ingat masa-masa kecil saat masih di kampung bersama temen-temen, gue mau sharing apa yang gue lakuin bersama temen-temen di masa kecil, dan sekarang tentunya gue sangat merindukan hal itu. Sebenernya catatan ini gue khususkan untuk gue pribadi supaya suatu saat bisa gue baca kembali. Mungkin bukan cuma gue yang baca, tapi adik-adik gue atau bahkan anak gue nanti.

Mencari ikan di sungai (memet)


Lumayan jauh dari kampung gue ada sungai yang biasa kami menyebutnya Tangkil, sungainya tidak begitu dalam pada area tertentu. Pulang sekolah gue sama temen-temen biasanya mencari ikan di sungai itu, bermodalkan kelambu sebagai alat gue sama temen-temen berangkat bareng-bareng. Gak.. itu bukan kelambu yang di pasang di kamar terus gue ambil, itu kelambu yang sudah tidak di pakai karena bolong-bolong.
Di butuhkan empat orang untuk memegang kelambu itu yaitu di bagian pojok-pojok. Biasanya kita menyusuri sungai dari bawah ke atas, tidak ada rasa takut saat gue nyebur ke sungai takut hanyut, ular ataupun buaya karena memang tidak ada buaya, paling kita naik sebentar saat ada yang ngambang lewat kemudian nyebur lagi. Pernah suatu hari kita gak sadar saat si ngambang lewat dan masuk ke kelambu kita, di kira ikan yang gede sama temen gue di ambil saat di pegang hancur langsung dah tuh tangan di mandiin pake kembang tujuh rupa dan air dari tujuh sumur.
Tujuan gue biasanya daerah pinggir sungai terutama di bagian yang banyak rumputnya karena biasanya banyak ikan. Setelah menyusuri dari bawah ke atas tak lupa langsung di hitung, gue inget banget waktu itu kita dapat 51 ekor ikan dan udang.
Karena sudah tanggung basah, biasanya gue sama temen-temen langsung langsung membendung tuh sungai buat mandi. Dengan keadaan telanjang kita langsung terjun ke air buat mandi, tidak takut hanyut, di gigit ular atau di marahin karena sungai di bendung paling sedikit malu karena kita telanjang, yang gue pikirkan waktu itu hanyalah gue bisa bahagia dengan hal itu. Dengan suasana sungai sesekali kita harus naik untuk menghindari si ngambang yang lewat kemudian nyebur lagi. Tak lupa saat mandi kita menjemur pakaian kita yang basah. Mungkin kalo gue lakuin itu sekarang, gue akan menjadi tontonan warga atau malah di larikan ke psikater. Selesai mandi kitapun langsung pulang dan menyuruh salah satu orang tua dari kita untuk memasaknya. Yummy.

Main di tumpukan jerami

Sebagai kampung yang bersebelahan dengan sawah tentunya itu akan menjadi nilai plus tersendiri, selain untuk mencari pangan mudah itu akan menjadi tempat bermain bagi anak-anak, seperti gue dulu. Pada masa panen tiba adalah masa yang di tunggu-tunggu petani, tak lain juga anak-anak karena biasanya pada waktu itu orang-orang di sawah sampai larut malam untuk panen padi.
Sepulang sekolah atau hari libur biasanya tujuan kita yaitu sawah untuk bermain, dengan menumpuk jerami bekas panen yang berserakan, kita tumpuk setinggi-tingginya untuk loncat-loncat di atasnya layaknya trampolin tak hanya untuk loncat kita buat untuk tiduran sambil lihat pesawat lewat, tiba-tiba temen gue nyelatuk.
“kapan ya kita bisa naik pesawat..?” Roshit sambil garuk-garuk kaki.
“kalau gue sih gak pengen, takut pesawatnya jatuh” jawab gue.
“kalau jatuh gak sakit kali, kan langsung mati” Roshit yang sambil jilat-jilat tangan gue.
Gue tidak menjawabnya dan menghadap ke Roshit, langsung gue dorong Roshit dari tumpukan jerami Roshit pun jatuh ke tanah.
Tanpa kita sadari ada seseorang mendekat ke kita kemudian maran-marah karena jerami itu kita tumpuk, ternyata jerami itu di jemur supaya kering untuk pakan sapi. Karena merasa bersalah kitapun mengambil sandal kemudian lari sekencang-kencangnya sambil teriak minta maaif ke pemilik jerami itu.
Tak hanya capek berlari rasa gatal mulai terasa di kulit, karena terasa gatal gue coba untuk cuci kaki dan tangan namun bukannya gatal hilang palah di tambah rasa perih, alhasih gue harus garuk-garuk sampai malam.

Main sepeda keliling kampung

Roda di selipin gelas plastik bekas air mineral, semakin kenceng gue gowes sepeda semakin kenceng pula suaranya. Mulut sambil “worr... worr... worr” dengan kebut-kebutan di kampung serasa jadi rossi yang lagi balapan di pacuan kuda.
Ini adalah favorit gue di sore hari, bermain bersama teman-teman keliling kampung dengan sepeda bekas orang tua gue dulu yang di impor dari semarang mempunya arti tersendiri bagi gue. Kadang gak hanya di kampung sendiri tapi sampai di kampung sebelah yang letaknya cukup jauh. Untuk yang tidak mempunyai sepeda, biar bisa bermain bareng tentunya kita harus memboncengnya dan boncengnya biasanya di depan. Kebayangkan gimana rasanya di bonceng sepeda di depan pas lagi lewat jalan yang jelek atau lewat bebetuan, kalau itu di lakukan genap dua minggu turun dah tuh ambeien.

Main bola dengan bola plastik

Yang jadi favoret gue selain sepedaan yaitu sepak bola dengan bola plastik. Sandal yang jadi gawang, yang paling gendut atau yang tinggi jadi kiper, yang punya bola yang ngatur permainan, ketika bola keluar lapangan yang menentukan out atau tidak kesepakatan bersama, yang bisa menghentikan kami hanya adzan manghrib atau teriakan emak nyuruh mandi.
Main sepak bola adalah kegiatan rutin yang hampir di lakukan setiap hari sehabis pulang sekolah atau sore hari. Biasanya gue sama temen-temen main di depan rumah yang halamannya luas, kadang lapangan yang di pake berbentuk L jadi antara gawang satu dengan yang lain tidak saling berhadapan. Tak hanya bermain di halaman rumah kami juga bermain di sawah yang belum di garap kembali alias masih kosong. Dengan di aliri air dari sungai alhasih stadion (sawah) kami jadi lumpur. Dengan bermodalkan bola plastik gue sama temen–temen bisa bermain sepuasnya. Kebayang kan gimana jadinya main bola di lumpur, yang pastinya akan kotor kayak kebo. Saat waktunya pulang siap-siap aja kena marah sama emak yang sudah nunggu di depan pintu, bisa-bisa uang jajan buat sekolah besok di kurangin.

Nyolong kelapa muda

Tak lengkap jika masa kecil tidak nyolong buah-buahan milik tetangga. Karena tuntutan itu gue pun ikut nyolong juga, tapi bukan buah mangga atau pepaya milik janda tetangga melainkan kelapa muda. Kampung gue kan sebelahan dengan sawah, jadi banyak pohon kelapa di kebun deket sawah. Karena yang punya kebun rumahnya lumayan jauh-jauh, kitapun punya kesempatan untuk menikmati tuh kelapa muda. Pulang sekolah, ganti baju makan terus main. Biasanya gue sama temen-temen kalau sudah capek dan haus langsung menuju ke kebun untuk nyolong kelapa muda, sampai–sampai kita hafal pohon mana yang kelapa mudanya enak dan biasa saja. Mungkin sudah langganan kali ya.??
“Bugg...” (suara kelapa muda jatuh)
“siji maneh Jon (satu lagi Jon)” teriak gue dari bawah.
“woy,, ki enek gedang di imbu nek kene (woy,, ini ada pisang di simpan di sini)” kata jono yang masih di atas pohon.
“yowes, di gowo midun sisan wae di pangan (yaudah, di bawa turun sekalian saja di makan)” sahut gue.
Mungkin ini yang namanya sekali mendayung dua tiga pulau masih jauh, niat mau nyolong kelapa sampai atas malah dapat pisang yang sudah mateng. Alhasil, gue dan teman-teman pun bisa kenyang karena tuh pisang. Gue gak kebayang aja gimana perasaan tuh orang yang nyimpen pisang di atas pohon, mungkin niatnya nyimpen di atas pohon biar gak di ambil orang tapi malah ilang juga, mungkin dia berpikir yang ambil tuh pisang kalong, iya,, kalong sarungan yang naruh pisang di sarungnya sampai lupa pisangnya sendiri.
Itu hanya sedikit cerita masa kecil gue dulu, masa kecil yang asik dan menyenangkan tapi semua itu tidak akan terasa asik jika di anggap bodoh. Mencari ikan di sungai padahal kita bisa minta di beliin di pasar, main di tumpukan jerami yang jelas bikin gatal dan perih, main sepeda kaliling kampung dengan di selipin gelas plastik yang bikin berisik, main bola plastik di lumpur yang bikin kotor dan bisa di marahin emak dan nyolong kelapa muda yang jelas-jelas itu di larang. Masa kecil gue terbebas dari gadget canggih karena memang belum ada, paling kalau megang handphone ya yang mainan yang ada suaranya anjing itu. Ya,, ini lah hal kecil yang membuat gue bisa saperti sekarang, yang membuat gue mempunyai impian besar. Impian gue bukan kerja di kantor-kantor besar dengan pakaian berdasi sepatu mengkilat dan gue gak ingin tua sebagai orang kantor, impian gue bisa kerja bebas dan kreatif, kerja di mana saja dan bisa kerja kapan saja.
Terima kasih sudah mampir, maap ya mungkin ceritanya agak ngelantur tapi setidaknya gue bisa menulis sedikit cerita masa kecil gue dulu. Sampai jumpa.

30 comments:

  1. Jadi ingat masa kecil dulu.
    Semua permainan kayaknya masih berhubungan dengan alam.
    Gak kayak sekarang mainannya dengan gadget semua :D
    Jadi kangen main tembak2an yang senjatanya dibuat pake batang pisang.
    Atau main mobil2an yang dibuat dari kulit jeruk bali. Hahahah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya,, masa kecil anak dulu sama sekarang beda. sekarang mereka lebih milih main sama gadget mereka, kalau di ambil malah nangis kayak nyawanya yang di ambil.
      dulu kalau main batang pisang suka di marahin orang tua, kalau getahnya kena baju gak bisa ilang apalagi kalau main masih pake seragam sekolah. :D

      Delete
  2. Waduh nyolong... pengalaman yang tak terlupakan.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk.. masa kecil kurang asik kalau belum nyolong, apalagi kalau belum di marahin atau di kejar yang punya.:D

      Delete
  3. Hahahaa 🤣 ... kok sama, dulu aku kecil kelas 2 SD pernah punya pengalaman nyolong ke kebun bareng teman2 dan bikin rujak disana ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya hampir semua yang pada masa kecilnya nyolong buah milik tetangga, kalau belum punya pengalaman ini kaya belum lengkap masa kecilnya. wkwkwk..

      Delete
    2. Wkkwwwk 🤣 ... sungguh terlalu yaa ...

      Delete
  4. kalau main sepeda keliling kampung wah tu saya banget,saya juga memakai sepeda untuk mencari inspirasi untuk bisa menulis sambil foto-foto pemadangan sekitar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai sekarang masih naik sepeda buat mencari inspirasi artikel dan foto2, mas Maschun ?

      Waah ... keren.
      Patut ditiru buat kita semua.

      Delete
    2. Biasanya sore hari saya dulu,
      Boleh tu cari inspirasi keliling pake sepeda sambil olah raga, jadi pengen beli sepeda lagi.

      Delete
  5. dari semua yang disebutin, hanya satu yang pernah gue lakuin , yaitu main sepeda keliling kampung, terus di keranjang sepedanya ditaruh kelinci hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau cewek biasanya miara barbie bareng temen-temen. wahh gak kasian tuh kelincinya wkwkwk...

      Delete
  6. banyak sekali momment masa kecil yang membuat kita merasa kangen y bang..
    sangat berkesan sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banyak sekali kalau di tulis satu-satu, kalau lagi kangen rasanya pengen mengulang.

      Delete
    2. kalo saya enakan hidup di eranya pak harto bang daripada eranya jokowi.
      dulu eranya pak harto makan tinffal makan.. klo eranya pak jokowi, saya kerja dulu. klo g kerja g bisa makan.. :D

      Delete
    3. wkwkwk, saya merasakan itu pada jamannya sby,
      tapi enaknya sekarang kalo pengen tinggal beli gak usah minta. :D

      Delete
  7. Ga ada tekanan dan masalah besar ya di masa2 itu 😂
    Seharian main aja rasanya pulang ke rumah yg ditunggu besok mau lanjutin main lagi 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau hari minggu libur sehari aja kayaknya kurang :)

      Delete
    2. april paling maen masak2an..

      manusia mah memang aneh..

      cewek kalo masih kecil maennya masak2an.. udah gede g bisa masak.
      klo cowok pas kecil maennya tembak2an.. pas udah gede g berani nembak..
      #eh

      Delete
    3. bener juga ya.. 😅
      dan hal konyol di masa kecil beli uang mainan dengan uang asli.. 😂

      Delete
  8. Itu kenapa nyolong kelapa segala sih? Hahah
    Padahal sama, aku juga dulu sering nyolong rambutan atau mangga tetangga, wkwkwk
    Zaman skrg mah anak2 mainnya cuma game, gadget, dll. Nggak kaya zaman kita dulu, hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. masa kecil lengkap deh kalau pernah nyolong, :D
      Iya, kalau gadgetnya di ambil udah kayak nyawanya yang di ambil, zaman kita main lompat tali aja udah seneng :)

      Delete
  9. Hahaha,, Nyolong kayaknya sudah pernah dialami semua anak kecil dah, saya juga dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk,, mungkin semacam tuntutan ya, kalau belum nyolong belum lengkap :D

      Delete
    2. Hahaha,,, emank seru saja kayaknya dulu! Lagian biasnaya pas ketahuan juga yang punya biasa saja

      Delete
  10. bukan hari minggu saja, hari libur yg lain juga mengasikan. wah sungguh pengalaman yg unik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang di tunggu2 itu libur pas kenaikan kelas, puas liburnya :D

      Delete