JOURNEY OF LIFE

Search This Blog

Update

Monday, January 15, 2018

Pertama Mendaki Nyasar ke Base Camp Sebelah | part I



Kegiatan naik Gunung atau sering di sebut mandaki sekarang sudah umum di lakukan tak pandang usia mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek, mereka mendaki untuk refreshing, cari pengalaman, hobi, sampai cari jodoh. Kita bisa ajak pacar ke Gunung karena sama pacar gak harus dinner di mall atau nongkrong di fly over. Oh ya, karena ini ceritanya lumayan panjang jadi gue bikin 2 part ya gan.
Sejak denger cerita dari kakak gue tentang keindahan alam di Gunung entah itu di gunung Merbabu, gunung lain atau pun gunung kembar gue jadi pengen juga ikut mendaki gunung kembar tapi sayangnya orang tua gak ngijinin untuk ikut mendaki dengan alasan gue masih kelas 3 SD dan kakak gue pun gak boleh kalau gue ikut (ngerepotin), semenjak denger cerita itu gue jadi punya niat untuk mendaki Gunung. Niat itu tersampaikan tahun 2015 lalu bersama teman-teman gue. Sebenarnya cerita ini sudah berdebu tapi yasudahlah dari pada gak ada update di blog ini.
Sebagai seorang siswa yang belum pernah mendaki tentunya tidak tahu apa yang harus di persiapkan dan apa saja yang wajib di bawa mendaki selain diri sendiri. Awalnya dari ajakan temen sekolah gue yang mau mendaki tapi baru beberapa orang saja. Gue langsung mengiyakan saja secara sudah lama ingin mendaki, H-3 gue dan temen-temen mulai mempersiapkan apa saja yang harus di bawa mulai dari sewa tenda, matras, kompor sampai kebutuhan logistik, “kok gak bawa sleeping bag.?” Ya emang kita gak bawa sleeping bag waktu itu dan gak bawa obat-obatan buat back up. Sebagai seorang siswa yang taat tas yang gue bawa mendaki pun tas sekolah, sepatu sekolah, jaket yang gue bawa sekolah tapi sekolahnya gak gue bawa. Modal utama yang kita bawa yaitu “nekat”.


Sekitar jam 5 sore kita berangkat menuju base camp, kita berangkat sekitar 10 orang ada satu seorang cewek dan kita semua masih pemula. Base camp yang kita tuju waktu itu yaitu base camp Cuntel Gunung Merbabu karena letaknya yang cukup dekat dari tempat tinggal kami dan trek nya gak begitu berat. Kita sampai di base camp sekitar jam 7.00 malam di lanjutkan pendaftaran dan registrasi serta istirahat sebentar untuk siap-siap untuk mendaki. Sekitar jam 8.00 malam kita mulai mendaki dengan berbekal nekat dan niat, suasana waktu itu gak begitu ramai cuma ada beberapa kelompok saja yang mendaki. Sebagai seorang pemula 30 menit pertama gue sudah merasa nafas gue hampir habis dan kita memutuskan untuk istirahat sebentar, gak terasa kita sudah berjalan selama satu jam dan di jam-jam itu gue merasa badan sudah gak enak, rasa lelah, bawaan berat serta keringat dingin yang keluar di panasnya tubuh karena lelah serta bawaan yang berat dan di perjalanan gue memutuskan untuk lepas jaket, pada awalnya sih merasa enak pas lepas jaket angin mulai terasa di badan tapi itu hanya bertahan beberapa menit saja.
Semakin lama bejalan semakin tinggi pula kita mendaki semakin semakin dingin pula udara yang kita rasakan, udara dingin keringat dingin beban berat tapi badan terasa panas itu membuat serba salah, mau lepas jaket dingin gak lepas jaket keringat dingin tapi yang namanya mendaki gak boleh mengeluh supaya bisa sampai puncak (katanya). Di jalan kelompok kita gak sendiri, kita bisa bertemu dengan kelompok lain dari berbagai daerah untuk saling sapa dan berbagi cerita. Emang bener kata orang-orang kalau mendaki itu temennya banyak.
Di tengah hutan yang gelap dan dingin serta hembusa angin yang dingin itu membuat gue berasa masuk ke masa lalu yang jauh dari serba canggih saat ini, bukan setan yang gue takutkan tapi gue takut ketika sedang berjalan bertemu dinosaurus sedang bercinta atau manusia purba yang sedang berburu t-rex untuk makan malam mereka.
Kita sampai di pos 3 sekitar jam 11.00 malam dan memutuskan untuk istirahat sebentar yang kebetulan ada dua orang sedang buat api unggun dan kita pun numpang untuk mencari kehangatan, makasih mas-mas yang waktu itu berbagi kehangatan, di pos tiga ini cukup luas kita bisa bermain bola, renang, voli, bahkan kita bisa ngadain hajatan di sini karena tempatnya yang luas. Jalan dari pos 3 ke pos 4 merupakan trek paling berat jadi harus ekstra hati-hati. Trek yang lumayan curam, berdebu yang kalau gak hati-hati mudah terperosot, saling membantu supaya bisa sampai menuju puncak adalah kunci utama di trek ini, kita lumayan lama karena banyak istirahat dan tenaga cukup terkuras.
Sampai di pos 4 atau pos pemancar sekitar jam 12.30 kita memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 4 karena badan sudah tidak memungkinkan untuk lanjut, kebetulan gue dapat tempat pas di bawah pemancar dan tenda temen letaknya gak jauh selesai mendirikan tenda di lanjut dengan makan dan ngopi supaya tidak kelaparan, selasai makan kita istirahat untuk persiapan submit attack besok pagi. Pertama kali tidur di Gunung dan tidak menggunakan sleeping bag membuat dingin menusuk sampai tulang terutama di bagian kaki yang cuma menggunakan kaos kaki sekolah , di saat dingin seperti ini bukan di makan t-rex atau di buru manusia purba yang saya takut tapi ketika di buru oleh hipotermia yang mematikan yang membuat saya takut.
To be continued gan, untuk membaca cerita selanjutnya silakan baca di part II.

4 comments:

  1. Wohaaaa harus safety first ya dong, jangan lagi2 naik gunung tanpa sleeping bag. Hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, modal nekat doang jadi gak bawa sleeping bag, pas tidur ampun dinginnya

      Delete
  2. Wah, SB emank barang wajib bangat klo muncak. Safety yang utama mas. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas, dulu cuma modal nekat, setelah itu kalau muncak bawa SB (kadang)

      Delete